Kalau Dia Bercerita, Bagaimana Nanti

Kalau dia bercerita disini, apakah kau akan mendengarnya? Apakah kau akan menyimaknya?

Dia disitu hanya sebagai pemeran pembantu yang tak punya posisi di setiap scene filmnya. Hanya diskriminasi dari beberapa rekan kerjanya yang egois dan sombong melebihi kesombongan Qarun yang ketika itu terjebak dalam hartanya.

Dia mulai berbicara sendiri, menghibur sendiri, dengan angin yang ketika itu tengah kencang-kencangnya menerpa rambut hitamnya. Rambutnya tipis, tak terurus. Dia hanya memakai shampoo seadanya. Karena uang yang dia dapatkan dari bermain peran, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan primernya, yaitu membayar uang kontrakan. Di kota itu, biaya kontrak saja sudah melebihi biaya gajinya perbulan. Al hasil, mau tidak mau, malu tidak malu, dia meminta neneknya di kampung untuk membantu dia membayar sebagian biaya hidupnya. Tragis!

 

Umurnya ketika itu sudah menginjak sekitar 26 tahun, dan belum menikah. Agaknya, dia sempat trauma dengan laki-laki yang pernah berkencan dengan dia. Laki-laki itu kabur dengan perempuan lain. Tanpa memberitahukan kenapa dia kabur meninggalkan dia sendiri. Dia hanya meninggalkan jejak kenangan yang melekat di kedua paru-parunya yang basah.

 

Di tengah-tengah angin yang tadi menerpa rambutnya, dia berbicara seakan-akan ada teman bicara yang mendengarkan.

 

“Kau tahu.. aku hanya ingin bercerita. Dengarkan saja. Tanpa kamu harus menjawabnya atau memberikan tanggapan kepadaku..”

 

Sepi suasana di lokasi, karena dia ditinggal sendiri, duduk di kursi paling belakang dari pekerja-pekerja yang lain. Kursinya juga khusus, khusus bagi orang yang paling biasa. Dia melanjutkan pembicaraan.

 

“Aku berpikir.. bahwa ketika aku berkata jika, aku berarti telah menyalahi aturan. Jika aku kaya? Jika aku punya suami? Jika aku punya rumah? Jika aku punya uang? Jika aku punya anak? Jika aku menikah? Jika aku punya mobil? Jika aku punya tas hermes? Ahhh! Semua itu hanya angan-angan belaka. Kenapa kalau memikirkan kata jika saja, pikiranku sudah kalut. Sudah mengikuti arus itu! Padahal aku di sinipun tak bisa bayar kontrakan. Tak bisa membiayai nenek di kampung. Kan tragis! Setan sungguh mudah mengikatku hanya dengan kata jika. Kau tahu, ketika aku semakin dalam memikirkan kata jika, aku semakin sedih, terpuruk, sesak. Karena aku tak bisa meraih itu semua. Dan pula, itu adalah angan-angan yang semu. Mungkin, aku harus memikirkan rambutku saja. Yang sudah jelas-jelas butuh perawatan, butuh penyuburan dan sudah jelas ada di dalam bagian diriku. Aku lihat kondisinya. Nyata. Tapi terkadang, aku memilih hal-hal yang tidak nyata untuk aku pikirkan. Betapa bodohnya aku! Betapa jahatnya aku! Pikiranku sakit! Hatiku sakit! Peduli orang kepadaku pun tak ada! Benarkan? Buat apa aku pusing dengan jika. Aku butuh waktu. Butuh waktu untuk meyakinkan diriku menghilangkan kata jika di pikiranku. Bantu aku!”

 

Suaranya sedikit keras, dan membangunkan kucing yang sedari tadi berada di sampingnya, mendengkur.

Kucing itu bangun, dan sedikit menggigit lengan dia. Kesal dengan suara kerasnya.

Setelah kucing itu pergi, dia sempat melongok ke depan. Sekiranya jatah kerjaan dia akan segera dimulai. Dia berdiri dan menghilang ke semak-semak yang ada di belakang meninggalkan kursinya yang biasa.

2 thoughts on “Kalau Dia Bercerita, Bagaimana Nanti”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *