He was 99

Seperti biasa, dia memasang tali sepatu sebelah kanan kemudian tali sepatu sebelah kiri. Dia buka pintu rumah dan mengucapkan salam kepada orang rumah. Memulai dengan melangkahkan kaki kiri dan kemudian kanan, dia menancapkan kunci motor dan kemudian menyalakan motor sambil memasang helm biru ke kepalanya. Penuh dengan perjuangan ketika dia menyalakan motor setengah bututnya, karena motor tersebut sudah menjadi kebanggaannya dulu dimulai sejak dia pertama kali mendapatkan KTP dan SIM secara bersamaan. Cukup lama umurnya, sehingga motor tersebut cukup menghabiskan uang sakunya. Setiap 2 bulan sekali, dia harus menservis motor tersebut secara rutin. Dia tidak keberatan, karena motor itulah satu-satunya sejarah dan saksi bisu ketika dia memutuskan untuk menjadi wartawan lepas. Sudah sejak dulu dia berkeinginan untuk menjadi wartawan. Pekerjaannya adalah kehidupannya. Dan tanpa pekerjaannya, dia tidak akan bisa menyelesaikan kuliah yang dulu dia perjuangkan.


Dengan suara sedikit memekakan telinga, motor itu melaju dengan kecepatan kurang dari 50 km/jam. Orang berlari saja bisa mengikuti gerak laju motor bututnya. Sampai-sampai kucing tetangga bisa melompat di tempat dudukan motornya dengan cepat. Betapa lambannya motor itu.  Namun, dibalik itu semua, dia sangat bisa membuat tetangganya bahagia, karena setiap dia lewat dia selalu membunyikan klakson teloletnya. Bunyinya seperti penjual es krim yang sedang berjualan. Tahulah bunyinya seperti apa.


Sekitar jarak 10 km dari rumahnya, dia berhenti dan membuka tasnya. Haus. Dia ambil air minum dengan botol berbentuk patrick tokoh kartun di Nickeledeon. Dia sangat freak dengan segala hal yang imut dan lucu. Di setiap perabotan bertempurnya, tak ketinggalan segala hal dari yang imut dan lucu pasti dia bawa. Botol minum berbentuk patrick, tempat pensil berbentuk beruang, tas berbentuk spongebob dan topi bayi yang selalu dia pakai ketika dia berkendara. Tak pelak, dia menjadi pusat perhatian.


Setelah dia meminum setengah dari air minumnya, dia melanjutkan perjalannya menuju kantor yang menjadi tempat kerjanya. Tiba-tiba, di tengah perjalanan dia melihat sesosok lelaki yang tak asing bagi dia. Dia berhenti sejenak dan mengamati dibalik kacamata bulatnya.


“Siapa dia?” bisik dia dalam hati.

Dia mematikan motornya dan berjalan menuju lelaki itu sembari meninggalkan motor kesayangannya di belakang.

“Permisi…” dia setengah berbisik dan menyapa lelaki tersebut..

Lelaki tersebut menoleh… dan …..


 

(to be continue)

2 thoughts on “He was 99”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *