Mencari Jejak Bolpoin

Kemarin sore, hujan

hujannya lumayan membasahi sebagian tikar yang kami gelar di depan sebuah masjid besar di kota kami. Sayup sayup terasa dingin menusuk kalbu.

Sementara penjual kaki lima yang ada di sekeliling kami mencari sesuatu untuk menutupi kepala dan dagangan mereka dari hujan yang begitu lebat. Buru buru, plastik yang mereka bawa digelar dan keresek kecil digunakan untuk menutupi sebagian kepala mereka. Katanya, agar kepala tidak kena air hujan yang nantinya bakal menjadi asal muasal mereka demam.

Di lapak kami, aman.

Panitia penyelenggara, mempersiapkan tenda untuk kami berteduh dan mengamankan buku buku yang kami bawa dari panas terik dan hujan lebat. Betapa baiknya mereka.

Hanya saja,

ketika malam, kami tidak bisa melihat dengan jelas. Karena penerangan dibiarkan tidak digunakan dan gelap menyelimuti tenda kami. Sedangkan pedagang kaki lima, sudah memiliki alat tempur tersebut.

Ya.. itu kekurangan kami

Kembali ke hujan

Sembari menunggu hujan angin pada saat itu, kami melihat keramaian yang hilang sementara karena hujan. Tiba-tiba, lewat dua orang sejoli -yang kami rasa sudah menikah itu-, bergandengan tangan, kebasahan karena hujan dan melambaikan tangannya ke arah kami.

Tak ayal, kami saling bertanya, itu teman siapa? siapa yang mereka sapa? Sebagai sesama single-wan dan single-wati, kami tidak ada yang mengangguk atau mengiyakan.

Namun, ada satu orang bergumam lirih,

“Aku ingin.. di bawah hujan.. bergandengan tangan.. dan menyapa sekeliling.. ini loh… Bapakku…. ”

8 thoughts on “Mencari Jejak Bolpoin”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *