Ndastrek

Salah satu hal yang sering dialami oleh sebagian umat manusia, bahkan makhluk luar angkasa adalah gelisah, galau, merana. Penyebabnya satu, mereka kekurangan cairan. Pada zaman dahulu, ketika manusia sedang kekurangan cairan, mereka berkelana sampai ke ujung dunia bahkan mencari celah di gua gua yang sekiranya menyediakan suasana untuk bertahannus. Dan.. sembuh..

Namun, sekarang, ketika manusia kekurangan cairan tidak cukup berdiam diri atau merenung.. ada di tambah slogan yang terkenal yaitu dengan meminum 1 liter air putih. Cukup..

Kurang a*ua? 

Ya.. itu gaung gaung bisikan ketika seseorang sedang gelisah, galau dan merana (singk. Gegana)

Ada lagi sepertinya..

Di zaman sekarang, tidak cukup hanya minum air putih, namun ditambah beberapa kata kata ungkapan atau umpatan yang di keluarkan

Tahu umpatan?

Ehm.. umpatan itu sejenis kata kata pelampiasan yang biasanya berhaluan kasar, sarkastik, saru (gak sopan).

Karena biasanya, dengan menyebutkan umpatan, ada sebagian orang yang merasa .. masalah yang tengah terjadi bisa tersalurkan dari kata kata tersebut. Emosi mereka bisa dilepaskan, bisa disalurkan.

Selama saya berkelana dan mengenal banyak orang, saya sudah mendengar berbagai macam umpatan umpatan yang sering di keluarkan oleh manusia yang sedang kekurangan cairan. Saya sebutkan saja;

Ndastrek!    As*!  Celen*!   Jancu*!   Kampre*!    Bedeba*!   Bajin***! T*i!   And many more ..

Masih banyak lagi, jenis jenis kata kata yang kasar dan sarkastik. Tidak usah saya sebutkan satu persatu.

Biasanya secara spontan, manusia akan berkata kasar seperti itu, entah karena dengar dari orang tuanya yang sering mengumpat, dari tetangganya, dari teman sepergaulannya, dari bacaan, atau dari manapun. Pasti kita semua pernah mendengar atau bahkan berucap kata kata umpatan yang saya sebutkan di atas.

Manusiawi

Manusia meniru jejak langkah manusia sebelumnya, dan kemudian mempraktikkannya. Dan mereka sadar, bahwa umpatan tersebut adalah ekspresi kekesalannya, atau bahkan ekspresi rasa setia kawannya terhadap teman sebayanya.

Wajar..

Namun, apa harus seperti itu?

Berkata kasar, yang entah iya atau tidak pasti akan memberikan efek negatif bagi pribadi dan lingkungannya, bagi masa depannya?

Saya kembalikan lagi kepada fitrah manusia dari sisi agama.

Allah menciptakan manusia dari bentuk yang sempurna, dan dengan kemampuan melebihi ciptaan-Nya yang lain. Dan salah satu hal sebagai pengorbanan ataupun wujud terima kasih kita untuk yang menciptakan adalah dengan berkelakuan baik, berbicara baik.

Apa pantas ? Kita berkata kasar karena sesuatu hal yang sebenarnya lumrah terjadi terhadap setiap manusia? Kesenangan? Kebahagiaan? Kekesalan? Musibah? Ujian? Dan lain sebagainya?

Padahal, dalam agama Islam sendiri, menyatakan bahwa ucapan (yang kita keluarkan dari mulut kita) adalah doa. Ketika kita berucap, itu adalah doa kita untuk kita sendiri alias akan berdampak untuk kita.

Baik maka akan kita dapatkan kebaikan.

Buruk.. maka yang kita dapatkan juga apa yang kita ucapkan.

Dalam istilah kerennya, menjadi boomerang bagi kita.

Tentu Sudah diajarkan sedari kecil bahwa ketika kita sedang bahagia maka ucapkanlah Alhamdulillah, ketika terkena musibah maka ucapkanlah innalillahi wainnailaihi raji’un, ada juga Astaghfirullah, Masha Allah, Subhanallah dan lain sebagainya. Kata kata tersebut selain baik, itu bisa berdampak positif bagi hati kita, jiwa kita.

Sepertinya, tidak pantas menurut saya untuk melampiaskan emosi dengan  mengeluarkan kata kata kasar, sarkastik seperti yang saya sebutkan di atas.

Karena tentu, itu tidak mencerminkan wujud syukur kita atas pemberian dari Allah swt, Dzat tertinggi, pencipta kita semua.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *