Anxiety

Berbulan bulan yang lalu, dia terpuruk, tenggelam dengan kekecewaan yang dia alami. Masa kecil yang suram, keluarga yang tidak mendukung dia, mengekang dia, cinta yang pupus dan tak kembali padanya, dan kasih sayang yang tidak dia dapatkan sepenuhnya. Kejadian itu memberikan dampak gelap bagi hatinya, pikirannya, dan perutnya. Setiap hari dia harus mengalami konflik batin dan konflik jiwa. Dan dia harus menahan sakit setiap petang menjelang. Sakit yang berkepanjangan tiada habisnya.

“Deg deg deg… “ anxiety disorder yang dia alami sekarang, seperti yang dokter bilang kepadanya, menjadi bom waktu yang sewaktu waktu kambuh membayangi dia dan menakuti pikirannya.

Jantungnya kian lama kian cepat detak jantungnya, keringat dingin mengucur di pelipisnya, dan perutnya kembali terasa sakit menusuk. Dia seperti pesakitan yang tenggelam dengan kekhawatirannya.

Ditangannya ada sebutir obat penenang, yang dia yakini bisa menyembuhkan kecemasannya. Dia pegang, dan dia ragu, apakah akan meminumnya kemudian sembuh sementara atau dia simpan kembali obat itu. Dia tidak mau menjadi ketergantungan dengan sebutir obat yang dia tidak tahu, efek sampingnya nanti 5 tahun.. 10 tahun.. yang akan datang.

Pikirannya kembali jauh, menerawang, memikirkan hal hal negatif yang dia yakini akan menimpa dirinya. Serangan jantungkah.. kematiankah.. atau penyakit lain dari imajinasi buruknya, dan itu semakin memperburuk suasana.

Apa yang dia alami sekarang, hanya sebagian kecil dari dirinya, dan sebenarnya apa yang terjadi adalah yang terburuk melebihi imajinasinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *