Anxiety

Berbulan bulan yang lalu, dia terpuruk, tenggelam dengan kekecewaan yang dia alami. Masa kecil yang suram, keluarga yang tidak mendukung dia, mengekang dia, cinta yang pupus dan tak kembali padanya, dan kasih sayang yang tidak dia dapatkan sepenuhnya. Kejadian itu memberikan dampak gelap bagi hatinya, pikirannya, dan perutnya. Setiap hari dia harus mengalami konflik batin dan konflik jiwa. Dan dia harus menahan sakit setiap petang menjelang. Sakit yang berkepanjangan tiada habisnya.

“Deg deg deg… “ anxiety disorder yang dia alami sekarang, seperti yang dokter bilang kepadanya, menjadi bom waktu yang sewaktu waktu kambuh membayangi dia dan menakuti pikirannya. Continue reading “Anxiety”

Menukar Uang Baru

Sebelah tempat dudukku saat ini sedang memegang uang, dan menghitung recehan. Raut mukanya menunjukkan keseriusan yang berarti. Panggilan akrabnya Dy, dan dia suka sekali memakai kacamata. Namun, bukan berarti jika kamu menemukan seseorang yang berkacamata itu pasti Dy. Bukan.. Jadi, bersabar saja jika kamu ingin bertemu dengan Dy, dan meminta uang recehannya.

Sementara dia menghitung uang, aku sebagai pengganti sementara partnernya yang sekarang tengah cuti hamil, membantu menjadi petugas pengembalian dan peminjaman buku di sebuah perpustakaan ternama. Tidak perlu saya sebutkan namanya, toh kamu pasti tidak berminat kesini. Continue reading “Menukar Uang Baru”

Mencari Jejak Bolpoin

Kemarin sore, hujan

hujannya lumayan membasahi sebagian tikar yang kami gelar di depan sebuah masjid besar di kota kami. Sayup sayup terasa dingin menusuk kalbu.

Sementara penjual kaki lima yang ada di sekeliling kami mencari sesuatu untuk menutupi kepala dan dagangan mereka dari hujan yang begitu lebat. Buru buru, plastik yang mereka bawa digelar dan keresek kecil digunakan untuk menutupi sebagian kepala mereka. Katanya, agar kepala tidak kena air hujan yang nantinya bakal menjadi asal muasal mereka demam. Continue reading “Mencari Jejak Bolpoin”

He was 99

Seperti biasa, dia memasang tali sepatu sebelah kanan kemudian tali sepatu sebelah kiri. Dia buka pintu rumah dan mengucapkan salam kepada orang rumah. Memulai dengan melangkahkan kaki kiri dan kemudian kanan, dia menancapkan kunci motor dan kemudian menyalakan motor sambil memasang helm biru ke kepalanya. Penuh dengan perjuangan ketika dia menyalakan motor setengah bututnya, karena motor tersebut sudah menjadi kebanggaannya dulu dimulai sejak dia pertama kali mendapatkan KTP dan SIM secara bersamaan. Continue reading “He was 99”